Yohanes Rumpak Minta Pemkab Sintang Segera Lakukan Mitigasi Bencana Gempa Bumi

Posted by : Admin Sintang Terkini 13.03.2026

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sintang, Yohanes Rumpak, meminta Pemerintah Kabupaten Sintang untuk segera melakukan langkah-langkah mitigasi bencana alam gempa bumi pasca terjadinya gempa yang berpusat di Kecamatan Kayan Hilir. Permintaan tegas ini disampaikan Yohanes pada Jumat, 13 Maret 2026, menyusul getaran kuat yang dirasakan oleh warga di sejumlah wilayah Kabupaten Sintang.

Yohanes Rumpak mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam atas kejadian gempa tersebut. Meskipun hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa, ia menilai bahwa gempa bumi yang berpusat di Kayan Hilir harus menjadi alarm peringatan dini bagi seluruh pemangku kepentingan di Sintang. Menurutnya, selama ini wilayah Kabupaten Sintang jarang dianggap sebagai daerah rawan gempa, sehingga kesiapsiagaan masyarakat maupun pemerintah masih sangat minim.

“Kejadian ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Selama ini kita lebih fokus pada banjir dan tanah longsor. Gempa bumi seolah bukan ancaman bagi Sintang. Tapi kenyataan di Kayan Hilir membuktikan sebaliknya. Kita tidak bisa lagi bersikap biasa-biasa saja,” ujar Yohanes Rumpak kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat sore.

Wakil Ketua DPRD Sintang itu menjelaskan bahwa mitigasi bencana gempa bumi harus segera dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama yang paling mendesak adalah edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai cara menyelamatkan diri saat gempa terjadi. Ia menilai masih banyak warga yang tidak tahu harus berbuat apa ketika getaran gempa datang, sehingga berisiko tinggi mengalami cedera atau bahkan korban jiwa.

“Edukasi sederhana seperti melindungi kepala, berlindung di bawah meja, atau tidak berlari keluar rumah saat gempa masih terjadi itu sangat vital. Ini harus disosialisasikan ke desa-desa, ke sekolah-sekolah, ke tempat ibadah, dan ke perkantoran. Jangan sampai kita menunggu korban berjatuhan baru bergerak,” tegasnya.

Tahap kedua, menurut Yohanes, adalah pemetaan wilayah rawan gempa di seluruh Kabupaten Sintang. Ia meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama instansi terkait untuk bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pihak akademisi dalam melakukan kajian mendalam. Pemetaan ini penting untuk mengetahui zona mana saja yang memiliki potensi gempa susulan atau bahkan gempa dengan kekuatan lebih besar.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan informasi dari media sosial atau cerita warga. Harus ada kajian ilmiah. Mana titik pusat gempa di Kayan Hilir? Apakah ada patahan aktif di sekitar Sintang? Ini harus dijawab dengan data, bukan dengan spekulasi,” imbuhnya.

Yohanes juga menyoroti aspek infrastruktur. Ia meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sintang untuk segera melakukan audit struktural terhadap bangunan-bangunan publik seperti sekolah, puskesmas, kantor desa, dan jembatan. Jika ditemukan bangunan yang tidak memenuhi standar tahan gempa, maka harus segera direnovasi atau diperkuat. Menurutnya, investasi untuk memperkuat bangunan jauh lebih murah dibandingkan biaya membangun kembali dari nol setelah bencana terjadi.

“Bayangkan jika sekolah ambruk saat gempa terjadi dan anak-anak sedang belajar. Itu adalah mimpi buruk yang tidak boleh terjadi. Karena itu, jangan tunggu gempa besar datang. Perkuat bangunan sekarang,” ujarnya dengan nada tegas.

Lebih lanjut, Yohanes Rumpak juga mengingatkan pentingnya simulasi dan gladi lapangan penanggulangan bencana gempa bumi secara rutin. Ia mencontohkan bahwa di daerah-daerah rawan gempa seperti Padang, Yogyakarta, atau Palu, simulasi bencana sudah menjadi agenda rutin tahunan. Sintang, menurutnya, harus mulai membangun budaya sadar bencana seperti itu.

“Simulasi jangan hanya seremonial. Harus benar-benar melibatkan masyarakat, aparat desa, relawan, dan tim medis. Latih mereka bagaimana mengevakuasi korban, bagaimana memberikan pertolongan pertama, dan bagaimana berkoordinasi dengan BPBD. Semua itu bisa menyelamatkan nyawa,” jelasnya.

Yohanes juga menyoroti pentingnya jalur evakuasi dan titik kumpul darurat. Ia meminta pemerintah desa di wilayah yang terdampak gempa untuk bersama-sama menetapkan lapangan terbuka atau area aman yang bisa dijadikan tempat berkumpul jika gempa susulan terjadi. Jalur evakuasi harus diberi rambu-rambu yang jelas dan mudah dipahami warga.

“Jangan sampai saat gempa terjadi, warga bingung mau lari ke mana. Mereka bisa terjebak di antara bangunan yang rubuh. Karena itu, tata ruang dan jalur evakuasi harus dipersiapkan dari sekarang,” tambahnya.

Di sisi anggaran, Yohanes meminta Bupati Sintang untuk mengalokasikan dana tanggap darurat dan dana mitigasi bencana dalam APBD perubahan tahun 2026. Menurutnya, kegiatan mitigasi tidak bisa hanya mengandalkan dana rutin yang terbatas. Diperlukan komitmen politik dan alokasi anggaran yang memadai agar program-program mitigasi bisa berjalan efektif.

“Saya di DPRD akan mendorong penganggaran yang cukup untuk mitigasi bencana. Ini bukan pemborosan, ini investasi keselamatan rakyat. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena tidak mempersiapkan diri sejak awal,” tegas Yohanes.

Yohanes Rumpak juga mengajak seluruh elemen masyarakat Sintang untuk tidak panik namun tetap waspada. Ia mengingatkan bahwa gempa bumi tidak bisa diprediksi kapan dan di mana akan terjadi, namun kesiapsiagaan bisa menyelamatkan banyak nyawa.

“Kepada warga Kayan Hilir yang terdampak, kami turut berduka atas kerusakan yang dialami. Kepada seluruh warga Sintang, mari kita jadikan kejadian ini sebagai pelajaran. Siapkan diri kita, siapkan keluarga kita, dan siapkan lingkungan kita. Mitigasi bencana adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkas Yohanes Rumpak.

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *