Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sintang, Yohanes Rumpak, menyatakan keyakinannya bahwa pelaksanaan proyek pemeliharaan jalan kabupaten yang akan berlangsung pada musim kemarau tahun 2026 akan berjalan optimal dan membuahkan hasil maksimal. Hal tersebut disampaikan Yohanes Rumpak pada Selasa, 14 April 2026.
Keyakinan ini didasarkan pada faktor meteorologis, yakni minimnya curah hujan yang menjadi kendala utama setiap kali pekerjaan perbaikan jalan dilakukan.
Menurut Yohanes, selama ini proyek pemeliharaan jalan di Kabupaten Sintang kerap mengalami hambatan serius karena tingginya intensitas hujan, bahkan pada musim yang seharusnya kering. Akibatnya, pengerjaan penimbunan, perataan, hingga pemadatan badan jalan tidak bisa dilakukan secara sempurna. Material timbunan mudah hanyut, aspal tidak merekat dengan baik, dan hasil akhirnya jauh dari harapan.
“Ketika hujan turun terus-menerus, alat berat tidak bisa masuk ke lokasi, material basah, dan jalan yang baru diperbaiki justru rusak sebelum sempat mengeras. Itu pengalaman pahit yang kita alami hampir setiap tahun,” ujar Yohanes Rumpak kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di wilayah Sintang pada tahun 2026 diprediksi akan berlangsung cukup jelas pada bulan Juni, Juli, hingga Agustus. Periode tiga bulan ini, menurut Yohanes, adalah “jendela emas” yang tidak boleh disia-siakan oleh Pemerintah Kabupaten Sintang.
“Kita tahu jalan kabupaten Sintang saat ini banyak yang rusak parah. Lubang-lubang besar, badan jalan amblas, bahkan beberapa ruas nyaris tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Tapi saya yakin, dengan cuaca cerah selama tiga bulan penuh, perbaikan bisa dilakukan secara maksimal,” tegas Wakil Ketua DPRD Sintang tersebut.
Yohanes merinci bahwa proyek pemeliharaan yang dilaksanakan saat kemarau akan mendapat setidaknya tiga keuntungan besar. Pertama, proses pengeringan badan jalan berlangsung cepat sehingga material penimbun seperti pasir, batu, dan sirtu dapat dipadatkan dengan sempurna. Kedua, alat berat seperti buldoser dan vibro roller dapat bekerja tanpa terganggu lumpur dan genangan air. Ketiga, hasil akhir perbaikan akan lebih presisi karena kontraktor bisa melakukan pengukuran dan perataan di kondisi tanah yang stabil.
“Dengan cuara cerah, pengerjaan satu ruas jalan yang biasanya molor hingga dua bulan bisa diselesaikan dalam hitungan minggu. Dan yang lebih penting, kualitasnya jauh lebih baik. Jalan yang diperbaiki saat kemarau akan lebih padat, lebih rata, dan lebih tahan lama dibandingkan jika dikerjakan di musim hujan,” paparnya.
Yohanes juga mengingatkan bahwa OPD teknis, terutama Dinas PUPR Sintang, harus sudah menyiapkan segala sesuatunya sejak sekarang. Ia menekankan bahwa faktor administrasi, lelang, hingga ketersediaan material harus rampung paling lambat bulan Mei 2026. Dengan demikian, pada awal Juni, kontraktor sudah bisa turun ke lapangan dan langsung bekerja tanpa membuang waktu.
“Jangan sampai proyek sudah dianggarkan, tapi proses lelang berlarut-larut. Begitu kemarau tiba, kita harus sudah eksekusi. Jika semua persiapan matang, saya optimis pada akhir Agustus 2026, jalan-jalan kabupaten yang selama ini menjadi keluhan utama masyarakat sudah bisa difungsikan kembali,” ujar Yohanes.
Lebih lanjut, ia berharap masyarakat juga turut mengawal pelaksanaan proyek tersebut. Menurutnya, perbaikan jalan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kebutuhan bersama. Dengan jalan yang fungsional, mobilitas warga, distribusi logistik, hingga akses layanan publik seperti kesehatan dan pendidikan akan semakin lancar.
“Rakyat Sintang sudah terlalu lama menderita karena jalan rusak. Musim kemarau 2026 adalah kesempatan kita untuk membenahi semuanya. Saya yakin, dengan kerja keras dan koordinasi yang baik, target ini akan tercapai. Jalan kabupaten yang mulus, rata, dan tahan lama bukan lagi mimpi,” pungkas Yohanes Rumpak penuh keyakinan.

